Periode Balai Pustaka: 1920-1940
Judul : Azab dan
Sengsara
Karya : Merari Siregar
Sejak
kecil, Aminuddin bersahabat dengan Mariamin. Setelah keduanya
beranjak dewasa, mereka saling jatuh hati. Aminuddin sangat mencintai Mariamin.
Dia berjanji untuk melamar Mariamin bila dia telah mendapatkan pekerjaan.
Keadaan Mariamin yang miskin tidak menjadi masalah bagi Aminuddin. Aminuddin memberitahukan
niatnya untuk menikahi Mariamin kepada kedua orangtuanya. Ibunya tidak
merasa keberatan dengan niat tersebut. Dia benar-benar mengenal pula keluarganya. Keluarga Mariamin
masih keluarga mereka juga sebab ayah Baginda Diatas, suami ibu Aminuddin,
dengan Sutan Baringin, ayah Mariamin, adalah kakak beradik. Selain itu, dia
juga merasa iba terhadap keluarga Mariamin yang miskin. Bila menikah dengan anaknya, dia mengharapkan agar keadaan ekonomi
Mariamin bisa terangkat lagi. Ayah Aminuddin, Baginda Diatas,
tidak setuju dengan niat anaknya menikahi Mariamin. Jika pernikahan
itu terjadi, dia merasa malu sebab dia merupakan keluarga terpandang dan
kaya-raya, sedangkan keluarga Mariamin hanya keluarga miskin. Namun,
ketidaksetujuannya tersebut tidak diperlihatkan kepada
istri dan anaknya.
Dengan
cara halus, Baginda Diatas berusaha menggagalkan pernikahan anaknya. Salah satu
usahanya adalah mengajak istrinya menemui seorang peramal. Sebelumnya dia telah
menitipkan pesan kepada peramal agar memberikan jawaban yg merugikan pihak
Mariamin. Jelasnya, sang peramal memberikan jawaban bahwa Aminuddin tidak akan
beruntung jika menikah dengan Mariamin. Setelah mendengar jawaban dari peramal tersebut, ibu
Aminuddin tidak bisa berbuat banyak. Dengan terpaksa, dia menuruti kehendak suaminya untuk menvarikan jodoh yang sesuai untuk Aminuddin. Mereka langsung melamar seorang
perempuan dari keluarga berada. Oleh karena Aminuddin sedang berada di Medan,
mencari pekerjaan, Baginda Diatas mengirim telegram yang isinya meminta
Aminuddin menjemput calon istri dan keluarganya di stasiun kereta api Medan. Menerima
telegram tersebut, Aminuddin mersasa sangat
gembira. Dalam hatinya telah terbayang wajah Mariamin. Ia
mengira bahwa calon istri yang akan dia jemput adalah
Mariamin. Namun setelah mengetahui bahwa calon istrinya itu bukanlah Mariamin,
hatinya menjadi hancur. Tapi sebagai anak yg berbakti terhadap orangtuanya,
dengan terpaksa ia menikahi perempuan pilihan orangtuanya itu. Aminuddin segera
memberitahukan kenyataan itu kepada Mariamin. Mendengar berita itu, Mariamin
sangat sedih dan menderita. Dia langsung pingsan tak sadarkan diri. Tak lama
kemudian, dia pun jatuh sakit. Setahun setelah kejadian itu,
Mariamin dan ibunya terpaksa menerima lamaran Kasibun, seorang kerani
di Medan. Pada waktu itu, Kasibun mengaku belum mempunyai istri. Mariamin pun
akhirnya diboyong ke Medan.
Sesampainya
di Medan, terbuktilah siapa sebenarnya Kasibun. Dia hanyalah seorang lelaki
hidung belang. Sebelum menikah dengan
Mariamin, dia telah mempunyai istri, yang dia
ceraikan karena hendak menikah dengan Mariamin. Hati Mariamin sangat terpukul
mengetahui kenyataan itu. Namun, sebagai istri yang taat beragama, walaupun dia membenci dan tidak
mencintai suaminya, dia tetap berbakti kepada suaminya.
Perlakuan
kasar Kasibun terhadap Mariamin semakin menjadi setelah Aminuddin mengunjungi
rumah mereka. Dia sangat cemburu pada Aminuddin. Menurutnya, penyambutan
istrinya terhadap Aminuddin sangat di luar batas. Padahal, Mariamin menyambut
Aminuddin dengan cara yang
wajar. Namun, karena cemburunya yang
sangat berlebihan, Kasibun menganggap Mariamin telah memperlakukan Aminuddin
secara berlebih-lebihan. Akibatnya, dia terus-menerus menyiksa Mariamin.
Perlakuan Kasibun yang kasar
kepadanya, membuat Mariamin hilang kesabaran. Dia tidak tahan lagi hidup
menderita serta disiksa setiap hari. Akhirnya, dia melaporkan perbuatan
suaminya kepada kepolisian Medan. Dia langsung meminta cerai. Permintaan
cerainya dikabulkan oleh pengadilan agama di Padang.
Setelah
resmi bercerai dengan
Kasibun, dia kembali ke kampung halamnannya dengan penuh kehancuran. Hancurlah
jiwa dan raganya. Kesengsaraan dan penderitaan secara batin maupun fisiknya
terus mendera dirinya dari kecil hingga dia meninggal dunia. Sungguh tragis
nasibnya.
Bahasa yang digunakan:
Novel
yang berjudul “Azab dan Sengsara” ini cukup sesuai dengan keadaan jaman (tahun
1920-an), yaitu ketika banyaknya kejadian kawin paksa/perjodohan atas kehendak
orang tua bukan atas dasar cinta. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu dimana di
dalamnya terdapat bahasa-bahasa yang belum dimengerti.
Periode Pujangga Baru : 1930-1945
Judul :
Belenggu
Karya :
Armin Pane
Karena keduanya tidak saling mencintai, mereka tidak pernah akur. Mereka tidak saling berbicara dan saling bertukar pikiran. Masalah yang mereka hadapi tidak pernah dipecahkan bersama-sama sebagaimana layaknya suami istri. Masing-masing memecahkan masalahnya sendiri-sendiri. Itulah sebabnya keluarga mereka tampak hambar dan tidak harmonis. Mereka sering salah paham dan suka bertengakar. Ketidakharmonisan keluarga mereka semakin menjadi karena Dokter Sukartono sangat mencintai dan bertanggung jawab penuh terhadap pekerjaannya. Dia bekerja tanpa kenal waktu. Jam berapa saja ada pasien yang membutuhkannya, dia dengan sigap berusaha membantunya. Akibatnya, dia melupakan kehidupan rumah tangganya sendiri. Dai sering meninggalkannya istrinya sendirian di rumah. Ida betul-betul tidak mempunyai waktu lagi bagi istrinya, Tini. Dokter Sukartono sangat dicintai oleh pasiennya. Dia tidak hanya suka menolong kapan pun pasien yang membutuhkan pertolongan, tetapi ia juga ridak meminta bayaran kepada pasien yang tak mampu. Itulah sebabnya, dia dikenal sebagi dokter yang sangat dermawan.
Kesibukan Dokter Sukartono yang tak kenal waktu tersebut semakin
memicu percekcokan dalam rumah tangga. Menurut Suamrtini, Dokter Sukartono
sangat egois. Sumartini merasa telah disepelekan dan merasa bosan karena selalu
ditinggalkan suaminya yang selalu sibuk menolong pasien-pasiennya. Dia merasa
dirinya telah dilupakan dan merasa bahwa derajatnya sebagai seorang perempuan telah
diinjak-injak sebagai seorang istri. Karena suaminya tidak mampu memenuhi hak
sebagai seorang istri. Karena suaminya tidak mampu memenuhi hak tersebut, maka Sumartini sering bertengkat. Hampir setiap hari
mereka bertengkat. Masing-masing tidak mau mengalah dan merasa paling benar.
Suatu hari Dokter Sukartono mendapat panggilan dari seorang wanita
yang mengaku dirinya sedang sakit keras. Wanita itu meminta Dokter Sukartono
datang kehotel tempat dia menginap. Dokter Sukartono pun datang ke hotel
tersebut. Setibanya dihotel, dia merasa terkejut sebab pasien yang memanggilnya
adalah Yah atau Rohayah, wanita yang telah dikenalnya sejak kecil. Sewaktu
masih bersekolah di Sekolah Rakyat, Yah adalah teman sekelasnya. Pada saat itu Yah sudah menjadi janda.
Dia korban kawin paksa. Karena tidak tahan hidup dengan suami pilihan orang
tuanya, dia melarikan diri ke Jakarta dia terjun kedunia nista dan menjadi
wanita panggilan. Yah sebenarnya secara diam-diam sudah lama mencintai Dokter
Sukartono. Dia sering menghayalkan Dokter Suartono sebagai suaminya. Itulah
sebabnya, dia mencari alamat Dokter Sukartono. Setelah menemukannya, dia
menghubungi Dokter Sukartono dengan berpura-pura sakit. Karena sangat merindukan Dokter
Sukartono, pada saat itu juga, Yah menggodanya. Dia sangat mahr dalam hal
merayu laki-laki karena pekerjaan itulah yang dilakukannya selama di Jakarta.
Pada awalanya Dokter Sukartono tidak tergoda akan rayuannya, namun karena Yah
sering meminta dia untuk mengobatinya, lama kelamaan Dokter Sukartono mulai tergoda
akan rayuannya, namun karena Yah sering meminta dia untuk mengobatinya,
lama-kelamaan Dokter Sukartono mulai tergoda. Yah dapat memberikan banyak kasih
sayang yang sangat dibutuhkan oleh Dokter Sukartono yang selama ini tidak
diperoleh dari istrinya.
Karena Dokter Sukartono tidak pernah merasakan ketentraman dan selalu bertengkar dengan istrinya, dia sering mengunjungi Yah. Dia mulai merasakan hotel tempat Yah menginap sebagai rumahnya yang kedua. Lama-kelamaan hubungan Yah dengan Tono diketahui oleh Sumartini. Betapa panas hatinya ketika mengethui hubungan gelap suaminya dengan wanita bernama Yah. Dia ingin melabrak wanita tersebut. Secara diam-diam Sumartini pergi kehotel tempat Yah menginap. Dia berniat hendak memaki Yah sebab telah mengambil dan dan menggangu suaminya. Akan tetapi, setelah bertatap muka dengan Yah, perasaan dendamnya menjadi luluh. Kebencian dan nafsu amarahnya tiba-tiba lenyap. Yah yang sebelumnya dianggap sebagai wanita jalang, ternyata merupakan seorang wanita yang lembut dan ramah. Tini merasa malu pada Yah. Dia merasa bahwa selama ini dia bersalah pada suaminya. Dia tidak dapat berlaku seperti Yah yang sangat didambakan oleh suaminya. Sepulang dari pertemuan dengan Yah, Tini mulai berintropeksi terhadap dirinya. Dia merasa malu dan bersalah kepada suaminya. Dia merasa dirinya belum pernah memberi kasih sayang yang tulus pada suaminya. Selama ini dia selalu kasar pada suaminya. Dia merasa telah gagal menjadi Istri. Akhirnya, dia mutuskan untuk berpisah dengan Suaminya. Permintaan tersebut dengan berat hati dipenuhi oleh Dokter Sukartono. Bagaimanapun, dia tidak mengharapkan terjadinya perceraian. Dokter Sukartono meminta maaf pada istrinya dan berjanji untuk mengubah sikapnya. Namun, keputusan istrinya sudah bulat. Dokter Sukartono tak mampu menahannya. Akhirnya mereka bercerai. Betapa sedih hati Dokter Sukartono akibat perceraian tersebut. Hatinya bertambah sedih saat Yah juga pergi. Yah hanya meninggalkan sepucuk surat yang mengabarkan jika dia mencintai Dokter Sukartono. Dia akan meninggalkan tanah air selama-lamanya dan pergi baya. Dia mengabdi pada sebuah ke Calidonia. Dokter Sukartono merasa sedih dalam kesendiriannya. Sumartini telah pergi ke Surapanti asuhan yatim piatu, sedangkan Yah pergi ke negeri Calidonia.
Karena Dokter Sukartono tidak pernah merasakan ketentraman dan selalu bertengkar dengan istrinya, dia sering mengunjungi Yah. Dia mulai merasakan hotel tempat Yah menginap sebagai rumahnya yang kedua. Lama-kelamaan hubungan Yah dengan Tono diketahui oleh Sumartini. Betapa panas hatinya ketika mengethui hubungan gelap suaminya dengan wanita bernama Yah. Dia ingin melabrak wanita tersebut. Secara diam-diam Sumartini pergi kehotel tempat Yah menginap. Dia berniat hendak memaki Yah sebab telah mengambil dan dan menggangu suaminya. Akan tetapi, setelah bertatap muka dengan Yah, perasaan dendamnya menjadi luluh. Kebencian dan nafsu amarahnya tiba-tiba lenyap. Yah yang sebelumnya dianggap sebagai wanita jalang, ternyata merupakan seorang wanita yang lembut dan ramah. Tini merasa malu pada Yah. Dia merasa bahwa selama ini dia bersalah pada suaminya. Dia tidak dapat berlaku seperti Yah yang sangat didambakan oleh suaminya. Sepulang dari pertemuan dengan Yah, Tini mulai berintropeksi terhadap dirinya. Dia merasa malu dan bersalah kepada suaminya. Dia merasa dirinya belum pernah memberi kasih sayang yang tulus pada suaminya. Selama ini dia selalu kasar pada suaminya. Dia merasa telah gagal menjadi Istri. Akhirnya, dia mutuskan untuk berpisah dengan Suaminya. Permintaan tersebut dengan berat hati dipenuhi oleh Dokter Sukartono. Bagaimanapun, dia tidak mengharapkan terjadinya perceraian. Dokter Sukartono meminta maaf pada istrinya dan berjanji untuk mengubah sikapnya. Namun, keputusan istrinya sudah bulat. Dokter Sukartono tak mampu menahannya. Akhirnya mereka bercerai. Betapa sedih hati Dokter Sukartono akibat perceraian tersebut. Hatinya bertambah sedih saat Yah juga pergi. Yah hanya meninggalkan sepucuk surat yang mengabarkan jika dia mencintai Dokter Sukartono. Dia akan meninggalkan tanah air selama-lamanya dan pergi baya. Dia mengabdi pada sebuah ke Calidonia. Dokter Sukartono merasa sedih dalam kesendiriannya. Sumartini telah pergi ke Surapanti asuhan yatim piatu, sedangkan Yah pergi ke negeri Calidonia.
Bahasa yang digunakan:
merupakan
penggunaan bahasa Indonesia modern yang pertama kali dipakai. Dan hal ini yang
menyebabkan Belenggu,
sedikit susah dipahami oleh pembaca saat ini dan terdapat bahasa kiasan.
Periode Angkatan 45 : 1940-1955
Judul :
Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
Karya :
Idrus
Bahasa yang digunakan:
Dalam karya prosa ini bahasanya sulit dimengerti sehingga maksud dan
penyampainnya susah dipahami.
Periode Angkatan 50 :
1950-1970
Judul :
Jalan Tak Ada Ujung
Karya :
Mochtar
Lubis
Guru
Isa adalah seorang guru yang lemah lembut,baik hati,dan tidak menyukai
kekerasan. Ia memiliki istri bernama Fatimah. Berkecamuknya revolusu dan
kekejaman Jepang yang sering ia saksikan membuat Guru Isa ketakutan dan
mengakibatkan ia kehilangan kejantannanya setelah enam bulan menikah. Dalam suasana yang tidak menentu itu,terpaksa
Guru Isa terlibat dalam perjuangan. Ia terpaksa harus menjadi kurir untuk
mengantar surat-surat rahasia,juga mengirim senjata keluar masuk kota untuk
keperluan perjuangn. Kesemuanya itu baginya sangat menakutkan,tetapi ia
kerjakan juga karena ia takut kepada kawan-kawan untuk tidak ikut dalam
perjuangan. Guru Isa berkenalan dengan
seorang pamuda pejuang yang gigih bernama Hazil. Mereka lekas akrab karena
sama-sama menyenangi musik dan pandai main biola. Hazil sering dating ke rumah
Guru Isa untuk main bersama-sama sehingga Hazil tidak asing lagi bagi Guru Isa
dan Fatimah. Pada waktu Guru Isa
mengajar,Hazil sering menjumpai Fatimah dengan alasan untuk bermain Biola.
Pernah bahkan Hazil membantu Fatima di dapur. Lama-lama hubungan mereka makin
jauh dan kelewat jauh. Fatimah sebenarnya merasa berdosa dan jijik kalau
mengingat hubungan intimnya dengan Hazil. Tetapi,dorongan kebutuhan biologisnya
mengalahkan rasa jijiknya. Hubungan
khusus itu diketahui oleh Guru Isa setelah ia menemukan pipa Hazil yang
tertinggal di bawah bantal. Bangkit amarahnya kepada Hazil dan Fatimah. Tapi
amarahnya ini tidak terungkap karena menyadari keadaan dirinya yang lemah serta
keadaan revolusi yang menakutkan. Suatu hari Guru Isa,Hazil dan Rahmat mendapat
tugas untuk melempar granat. Tugas ini benar-benar menakutkan dan membuat Guru
Isa bingung. Untuk tidak berjuang ia takut kepada kawan-kawannya dikatakan
pengkhianat bangsa,untuk ikut berjuang ia takut kepada peperangan. Tapi ia
putuskan untuk ikut berjuang dengan segenap ketakutannya sampai akhirnya ia
ditangkap oleh Belanda bersama kawannya.
Dalam
penjara ia juga bingung oleh ketakutannya. Untuk membongkar rahasia perjuangan
takut kepada kawan-kawannya,untuk tetap bungkam juga takut disiksa. Tapi ia
tetap memilih tetap bungkam meskipun disiksa hingga ketakutannya memuncak.
Ketika dipertemukan dengan Hazil dalam suatu interogasi,tahulah Guru Isa bahwa
Hazil yang katanya gagah berani justru buka mulut. Peristiwa inilah yang
membuat Guru Isa menemukan jati dirinya,bahwa ternyata ia adalah seorang
pemberani dan pejuang sejati. Ia pun menemukan kembali kelelakiannya.
Bahasa yang digunakan:
Bahasa
yang digunakan dalam novel Jalan Tak Ada Ujung ialah sederhana, mudah dipahami, kosa kata sehari-hari dan
sesuai dengan EYD.
Periode Angkatan 70 :
1965-sekarang
Judul : Surat
Kecil Untuk Tuhan
Karya :
Agnes
Davonar
Awalnya Dia pikir, keke hanya flu biasa dan kelelahan sehabis mengikuti olah raga volley. Tetapi Dia salah, ayahnya mendapatkan kabar kalau keke terserang kanker ganas. Kanker itu dapat membunuhnya dalam waktu lima hari. Ayah keke merahasiakan kanker itu darinya, ia takut bila keke tahu harus dioperasi dengan kehilanagan sebagian wajah kirinya.
Hari berlanjut, di wajah keke mulai tumbuh gumpalan sebesar bola tennis dan perlahan sebesar buah kelapa. keke menangis, tapi tak ada yang mau memberi tahu penyakit apa yang ada di wajahnya. Keke jalani hidupnya senormal mungkin, namun kanker itu menghalangi langkahnya, keke tidak ingin menangis dan berpikir dia sakit. Walau Dia sadar bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Tuhan memberikan nafas panjang padanya untuk bertahan selama tiga tahun dari penyakit ini. Keke pun menulis surat kecil pada Tuhan, semoga tidak ada lagi orang yang mengalami hal yang sama dengannya.
Bahasa yang digunakan:
Sudah menggunakan bahasa Indonesia modern dan
bahasanya juga tidak asing lagi kita dengar dikehidupan sehari-hari.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar